Monday, December 2, 2019


FENOMENA RESURGENSI INSEKTISIDA
Ayyub dan M. Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

PENDAHULUAN
Yang dimaksud dengan istilah resurgensi suatu hama adalah terjadinya peristiwa peningkatan populasi hama sasaran yang sangat mencolok jauh melampaui ambang ekonomi segera setelah aplikasi suatu insektisida. Resurgensi tidak hanya mencakup pengertian meningkatnya populasi hama sasaran segera setelah selesai pengendalian saja, tetapi juga termasuk berubahnya status suatu hama menjadi hama sasaran (letusan skunder). Peristiwa tersebut terjadi sebagai akibat terbunuhnya musuh alami hama akibat penggunaan insektisida yang berspektrum luas (Untung, 1993; Metcalf, 1982).
Fenomena resurgensi pertama dilaporkan pada penggunaan insektisida jenis Kalium Arsenat, Kriolit, DDT, BHC, Aldrin, Toxapen dana Paration. Pada wereng coklat, fenomena resurgensi dilaporkan oleh Heinrichs dan Mochida (1984) berupa menurunnya tingkat mortalitas, meningkatnya laju reproduksi, memendeknya stadia nimfa, memanjangnya masa oviposisi dan stadia imago, sedangkan Bhudasaman et al. (1992) menemukan bahwa insektisida yang dapat menyebabkan resurgensi adalah Deltametrin.

KINERJA BAHAN AKTIF INSEKTISIDA UJI
Aplikasi Dimehypo 290AS
Aplikasi Dimehypo 290 As disusun dalam kisaran 5 perlakuan tingkat dosis yakni dosis 0,375 l/ha, 0,750 l/ha, pembanding Fentoat 60EC dosis 1,5 l/ha dan kontrol populasi yang dicatat pada pengamatan di Maros nampak adanya peningkatan (menaik) dengan meningkatnya interval pengamatan dan meningkat tajam mulai minggu 7-11 mst. Dosis aplikasi Dimehypo 290AS tidak berbeda nyata dengan petak kontrol kecuali pada 7 mst. Dosis yang berbeda nyata dengan kontrol dicatat pada perlakuan insektisida pembanding Fentoat 60EC pada taraf aplikasi 1,5 l/ha. Pada pengamatan di Pangkep, trend padat populasi wereng coklat umumnya juga meningkat pada semua dosis dengan meningkatnya interval pengamatan. Pada pengamatan 4, 5 dan 7 mst, seluruh perlakuan tidak nyata pada taraf uji Duncan 10%, akan tetapi pada pengamatan 8-12 mst, dosis antar perlakuan ada yang berbeda nyata, tetapi tidak nyata terhadap petak kontrol kecuali pada perlakuan insektisida pembanding Fentoat 60EC (Tabel 1). Data tersebut memberi arti bahwa insektisida Dimehypo 290As yang dicobakan pada wereng coklat berdasarkan pengamatan di Maros dan Pangkep belum memperlihatkan adanya tanda-tanda resurgensi pada hama sasaran.

Aplikasi Carbosulfan 5G
Aplikasi Carbosulfan 5G disusun dalam kisaran 3 perlakuan tingkat dosis yakni dosis aplikasi 6, 12 dan 24  kg bahan aktif/ha, 10 kg b.a/ha, Regent 0.3 G 1.8 kg b.a/ha, Fentoat 60EC dan Kontrol. Pengamatan dilakukan pada 10 interval yakni mulai dari pengamatan 4 sampai 13 mst.
Rata-rata padat populasi wereng coklat menunjukkan trend yang fluktuatif dari minggu ke minggu berikutnya. Perlakuan dosis nampak tidak nyata bila dilakukan perbandingan antar perlakuan yang tercatat pada minggu 4, 5, 8, 9 dan 13 mst, akan tetapi semua perlakuan tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol (Tabel 2). Dari pengamatan di lapangan nampak  bahwa fenomena resurgensi akibat perlakuan insektisida Karbosulfan 5G terhadap wereng coklat belum nampak, bahkan pada petak yang mendapatkan perlakuan insektisida pembanding Fentoat 60EC sekalipun.

Aplikasi Carbosulfan 5WP
Aplikasi Imidokloprid 5WP disusun dalam kisaran 3 perlakuan tingkat dosis yakni dosis 250 g bahan aktif/ha, 500 g b.a/ha, 1000 g b.a/ha, pembanding Fentoat 60EC dosis 1800 ml b.a/ha, Imidokloprid 200SL 125 g b.a/ha dan kontrol. Hasil pengamatan yang dilakukan 3 hari sebelum aplikasi I menunjukkan wereng coklat telah merata pada petak-petak percobaan di lapang. Padat populasi pada pengamatan I (3mst) telah mencapai ± 129 ekor/70 rumpun. Rata-rata padat populasi pada 4, 6, 7 dan 8 mst terlihat bahwa populasi wereng coklat pada petak yang diaplikasi Imidokloprid 5WP dosis 250, 500 dan 1000 g b.a/ha dan Imidokloprid 200SL dosis 125 ml b.a/ha lebih rendah dibanding kontrol, sedangkan pada petak yang diaplikasi insektisida pembanding resurgensi (Fentoat 60EC) dosis 1800 ml b.a/ha sudah menampakkan gejala resurgensi tercatat mulai pengamatan 5-13 mst, yang dicirikan dengan meningkatnya populasi dan berbeda nyata dibanding kontrol (Tabel 3).


DAMPAK APLIKASI TERHADAP MUSUH ALAM
Pada Aplikasi Dimehypo      
Pengamatan terhadap musuh alam jenis Lycosa pseudoannulata  di Maros nampak bahwa pengamatan 3, 5 dan 9 mst semua perlakuan dosis yang dicobakan tidak nyata baik antar perlakuan maupun terhadap kontrol. Pada pengatan 4, 6, 7, 8 dan 10 mst nampak bahwa pembanding resurgensi Fentoat 60EC berbeda nyata dengan kontrol, sedangkan kisaran dosis Dimehypo yang dicobakan nampak tidak konsisten (berfluktuasi). Terlihat pada populasi pada 4, 8, 10 mst tidak berbeda nyata dengan kontrol khususnya pada perlakuan tingkat dosis yang dicobakan. Demikian pula pada pengamatan di Pangkep, padat populasi Lycosa pseudoannulata pada 4-8, 11-12 mst tidak nyata dibanding kontrol, kecuali pada 9-10 mst dimana perlakuan dosis 0,375 l b.a/ha, 0.750 l b.a/ha dan pembanding Fentoat 60EC berbeda nyata pada taraf uji 10% DMRT. Ini berarti bahwa tidak terdapat penurunan populasi musuh alami yang drastis dan berbeda nyata dibanding kontrol akibat aplikasi insektisida Dimehypo baik di Maros maupun di Pangkep.
Pengamatan terhadap musuh alam jenis Cyrtorhinus lividipennis di Pangkep nampak bahwa padat populasi yang dicatat dalam 5 interval pengamatan semuanya tidak berbeda nyata dengan kontrol kecuali pada 9 mst, dimana semua kisaran dosis yang dicoba dan pembanding resurgensi berbeda dengan kontrol. Populasinya justru meningkat tajam setelah 10-12 mst, sedangkan pada pengamatan di Maros nampak bahwa pada 9-10 mst padat populasinya tidak nyata, pada 11 mst perlakuan dosis 0.375 l b.a/ha berbeda nyata. Nampak yang tercatat ada peningkatan populasi yang drastis pada 11-12 mst. Ini berarti bahwa dampak aplikasi insektisida Dimehypo terhadap perkembangan populasi C.lividipennis tidak nampak bahkan sebaliknya terdapat peningkatan populasi yang tajam.

Pengamatan terhadap Ophionea nigrofaciata di Maros terlihat bahwa kisaran dosis yang dicobakan tidak nyata pada 9-10 mst, akan tetapi padat populasi nyata dibanding kontrol baru nampak pada 12 mst. Hal tersebut tercatat pada perlakuan dosis 0.375 l b.a/ha dan pada 11 mst yang tercatat pada perlakuan pembanding Fentoat 60EC. Pengamatan di Pangkep terlihat bahwa pada 10 mst perlakuan tidak nyata, pada 11 mst hanya dosis 0.375 l b.a/ha yang nyata. Dari pengamatan di Maros maupun Pangkep nampak bahwa dampak aplikasi insektisida Dimehypo terhadap perkembangan populasi O.nigrofaciata belum nampak. Di kedua lokasi penelitian nampak bahwa trend padat populasi terlihat ada peningkatan yang tidak terlalu tajam.
           
Pada Aplikasi Karbosulfan
Pengamatan dampak insektisida Karbosulfan terhadap musuh alam hanya dilakukan terhadap jenis C.lividipennis dan L.pseudoannulata dengan mengamati populasi dalam 70 rumpun sampel. Pada pengamatan C.lividipennis nampak bahwa baik perbedaan antar perlakuan maupun terhadap kontrol tidak nampak mulai 4-9 mst. Perbedaan antar perlakuan nyata pada pengamatan 10-13 mst, akan tetapi perlakuan yang nyata dibanding kontrol ditemukan pada 11 mst yakni pada perlakuan dosis 6, 12, 24 kg b.s/ha dan pada 13 mst yakni pada perlakuan dosis 6 kg b.a/ha. Pada pengamatan L.pseudoannulata nampak bahwa perbedaan antar perlakuan tidak nyata tercatat pada 4, 5, 6, 8, 10, 11, 12 dan 13 mst sedangkan pada 7 dan 9 mst perbedaan antar perlakuan nyata, akan tetapi tidak nyata dibanding kontrol. Pada pengamatan C.lividipennis nampak bahwa padat populasinya fluktuatif di lapang, sedangkan pada pengamatan L.pseudoannulata padat populasinya memperlihatkan trend yang meningkat walaupun tidak terlalu tajam. Dari fenomena tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak aplikasi insektisida Karbosulfan tidak nyata terhadap perkembangan padat populasi baik C.lividipennis maupun L.pseudoannulata.

Pada Aplikasi Imidokloprid
Pengamatan dampak aplikasi Imidokloprid terhadap musuh alami jenis dicatat pada jenis L.pseudoannulata dan C.lividipennis. Pada pengamatan L.pseudoannulatan terlihat bahwa rata-rata padat populasi tidak nyata antar perlakuan maupun terhadap kontrol dicatat pada 3, 6, 11 dan 13 mst. Pada pengamatan interval 4 dan 5 mst semua dosis yang dicobakan tidak nyata dibanding kontrol akan tetapi pembanding Fentoat 60EC nyata. Pada interval 7 dan 9 mst, semua perlakuan dosis Imidokloprid nyata dibanding kontrol sedangkan pada 8 dan 10 mst tidak nyata. Pada pengamatan C.lividipennis interval 7 dan 8 mst terdapat 3 kisaran dosis Imidokloprid yang nyata dibanding kontrol yakni dosis 250, 500 dan 1000 g b.a/ha sedangkan interval 9-13 mst semua perlakuan tidak nyata dibanding kontrol. Dari fenomena tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak aplikasi Imidokloprid belum nyata berpengaruh terhadap perkembangan musuh alam jenis L.lividipennis dan C.lividipennis. Trend perkembangan populasi kedua musuh alam tersebut di atas terlihat sedikit peningkatan dari waktu ke waktu.


DAFTAR PUSTAKA
Baco, D., M. Yasin, dan Masmawati. 1996. Resurgensi insektisida Dimehypo 290 AS terhadap wereng coklat Nilaparvata lugens dan pengaruhnya terhadap musuh alami. Hasil Penelitian Hama dan Penyakit 1995/1996. Badan Litbang Pertanian, Balitjas. hal. 90 – 104
Bhudhasamai, P. Silaposorn, and  Shoiwtip. 1992. Effects of for hand spray insecticides on Brown Planthopper (BPH) resurgence in rice. International Rice Research Newsletter. No. 17. No. 13. IRRI. Manila. Philippines. pp.20-21
Heinrichs, E.A dan O. Mochida. 1984. From secondary to major pest status. The case of Insecticide-Induced Rice Brown Planthopper (Nilaparvata lugens Stal)  Resurgence. Protection Ecology (&) : 201 – 216
Mas’ud, S., dan D. Baco. 1996. Pengaruh insektisida Karbosulfan 5 G terhadap resurgensi wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) pada tanaman padi. Hasil Penelitian Hama dan Penyakit 1995/1996. Badan Litbang Pertanian. Balitjas. hal. 105 – 111
Metcalf., R.L. 1984. Insecticides in pest management. Dalam R.L. Metcalf dan W.H. Luckman (ed). Introduction to Insect Pest Management. Edisi kedua. John Wiley & Sons. New York. hal. 217 – 277.
Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah Mada University Press. 273 hal
Yasin, M., dan D. Baco. 1996. Efikasi dan resurgensi wereng coklat oleh insektisida Imidoctoprid 5 WP pada tanaman padi. Hasil Penelitian Hama dan Penyakit 1995/1996. Badan Litbang Pertanian. Balitjas Maros. Hal 119 – 129.