Wednesday, November 27, 2019


PROTAB KESELAMATAN KERJA AGAR PESTISIDA AMAN DIPAKAI

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Pestisida sebagai alat membunuh atau mengedalikan organisme pengganggu, dibidang pertanian sudah digunakan sejak beberapa abad yang lalu. Sejak tahun 1942, penggunaan pestisida makin meningkat dan mendominasi cara pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT). Hal ini karena bahan tersebut sangat efektif, menghasilkan aktivitas penyembuhan dengan cepat, penggunaaannya dapat disesuaikan dan diterima pada berbagai situasi, fleksibel dengan perubahan agronomis dan ekologis serta ekonomis.

Wednesday, November 20, 2019


CARA BEKERJA SENYAWA PESTISIDA DI ALAM

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN

Penggolongan/jenis-jenis pestisida yang beredar di pasaran dapat diklasifikasi antara lain adalah insektisida, rodentisida, molusisida, avisida, dan mitisida. Sedangkan yang mengendalikan jazad renik antara lain bakterisida, fungisida, algisida. Selain dari pada itu terdapat senyawa kimia yang sifatnya hanya sebagai pengusir serangga (insect repellant), dan sebaliknya ada pula yang justru menarik serangga untuk datang (insect attracant) serta ada yang dapat memandulkan serangga.


SENYAWA KIMIA PESTISIDA PENYEBAB KANKER, MUTASI GENETIK  DAN ALERGI

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Peristiwa resietensi dan resurgensi muali mencuat tercatat setelah digunakannya pestisida-pestisida anorganik dan pestisida organik secara besar-besaran. Beberapa jenis yang mula-mula dilaporkan menyebabkan resistensi dan resurgensi adalah senyawa-senyawa dari kalium arsenat, kriolit, DDT, BHC, aldrin, toksapen dan paration. Pencemaran oleh pestisida dalam wujud adanya residu sudah ditemukan pada hampir semua ekosistem dari lingkungan biotik dan abiotik sekitar kita. Dengan adanya bahan racun dalam lingkungan dikhawatirkan dapat mengakibatkan terjadinya keracunan kronis yang berdampak panjang bagi kesehatan manusia. Monitoring terbtas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian melalui Direktorat Perlindungan Tanaman tahin 1980 menemukan sejumlah

Tuesday, November 19, 2019


INFESTASI  HAMA GUDANG DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Faktor fisika dan kimia dari suatu varietas/galur sorgum sangat berpengaruh terhadap tingkat serangan. Faktor yang dominan adalah bulu, tingkat kekerasan kulit dan tinggi rendahnya tingkat kandungan senyawa tanin. Varietas yang mempunyai bulu yang keras dengan kandungan tanin yang tinggi, tingkat serangan hama biasanya rendah. Pada biji dengan kandungan tanin rendah bila kondisi kulitnya lunak maka serangan hama akan tinggi (Nonci et al.,1997). Ini berarti bahwa tekstur fisika lebih dominan sebagai faktor ketahanan struktural dalam suatu biji dari pada komposisi kimianya. Keterkaitan antara faktor fisika dan kimia yang menyusun bukan saja berpengaruh terhadap tingkat kekerasan dan kelunakan kulit suatu biji sorgum, bahkan berpengaruh terhadap performansi warnanya.


BIOEKOLOGI HAMA PENGGEREK BATANG JAGUNG
  
Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Tanaman jagung sudah lama diusahakan petani Indonesia dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Penduduk kawasan timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Madura, sebagian Maluku, dan Irian Jaya sudah biasa menggunakan jagung sebagai makanan pokok sehari-hari. Produksi jagung Indonesia sebagian besar berasal dari pulau Jawa (± 66%) dan sisanya barasal dari di propinsi luar Jawa terutama Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur.Jagung memiliki peranan penting dalam industri berbasis agribisnis. Untuk tahun 2009, Deptan melalui Direktorat Jendral Tanaman Pangan mengklaim produksi jagung mencapai 18 juta ton.

HAMA TIKUS PADA EKOSISTEM SAWAH

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Didukung oleh potensi reproduksi tikus yang tinggi dengan masa bunting dan menyusui yang singkat maka hama ini mempunyai arti dan peranan yang sangat berarti dalam menekan usaha peningkatan produktivitas hasil. Pada percobaan laboratorium, tercatat bahwa dalam 6 bulan saja seekor tikus dapat melahirkan rata-rata 4 kali pada selang waktu 1-1,5 bulan dengan jumlah keturunan 5-12 ekor dengan nisbah kelamin 1:1 (Rochman dan Sukarna,1991). Masa bunting paling banyak justru pada saat tanaman padi berada pada fase generatif (masa bunting-matang susu), sehingga jelas bahwa ternyata masa reproduksi aktif hama tikus akan kondusif dengan masa reproduksi aktif tanaman.

Monday, November 18, 2019


Sebuah buku telah diterbitkan oleh Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros dengan judul : Pengenalan Fall Armyworm yang ditulis oleh Ibu Nurnina Nonci dkk. Untuk mengetahui lebih jauh dari materi yang dbahas dalam buku ini, selengkapnya buku ini dapat dibaca dan didownload pada link berikut : 



Buku : Pengelolaan Hama Kumbang Bubuk Melelaui Pemanfaatan Varietas Tahan

Upaya pengendalian hama kumbang bubuk telah dilakukan dengan menyita waktu panjang tetapi hasilnya belum memuaskan. Beberapa komponenn pengendalian seperti penerapan sanitasi lingkungan, penggunaan bahan kimia (fumigasi, fogging), aplikasi teknologi budidaya yang baik, penerapan teknik pengendalian fisik dan mekanis terbukti tidak menekan populasi secara signifikan.