Monday, February 29, 2016

EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP MORTALITAS Sitophilus zeamais M. PADA JAGUNG DI PENYIMPANAN


Hasnah dan Usamah Hanif
ABSTRACT
The objective of study was to determine the effective concentration of garlic extract in controlling S.zeamais on maize in storage. Concentrations of garlic extract tested were 2 percent, 4 percent, 6 percent, 8 percent, 10 percent, and 12 percent. The results showed that garlic extracts were potential as plant-based insecticide, indicated by a positive effect of garlic extract on S. zeamais mortality, the average time of S. zeamais death, the maize kernel damage and the number of S. zeamais progeny. Concentration of 12 percent gave the highest mortality rate of S. zeamais, the fastest average time ofS. zeamais death, the lowest maize kernel damage and the lowest number of S. zeamais progeny, while the concentration of 2 percent gave the lowest mortality rate of  S. zeamais, the longest average time of S. zeamais death, the highest percentage of kernel damage, and the highest number of S. zeamais progeny.
Keywords : Sitophilus zeamais, garlic, maize

Monday, February 22, 2016

Hama Utama Tanaman Kacang Tanah: Bioekologi dan Cara Penanggulangannya


Arifin, M. 1999. Hama utama tanaman kacang tanah: bioekologi dan cara penanggulangannya. Pelatihan Perbanyakan Benih Surnber Varietas Unggul Kacang Tanah dan Transfer Teknologi kepada Petani Penangkar Benih. Kerjasama Puslitbangtan dan BPTP Jawa Barat di Surade, Sukabumi, 2-8 Maret 1999. 14 p.

Muhammad Arifin
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio)



PENDAHULUAN

Ada ratusan jenis serangga yang berasosiasi dengan tanaman kacang tanah di Indonesia. Di antaranya, ada yang berstatus hama, predator, parasitoid, dan ada pula yang berstatus nontarget. Beberapa jenis serangga hama sering dijumpai di pertanaman dalam jumlah yang berlimpah dan mengakibatkan kehilangan hasil panen sehingga dikelompokkan sebagai hama utama.

Teknik Produksi dan Pemanfaatan Musuh Alami dalam Pengendalian Hama Tanaman Perkebunan


Arifin, M. 1999. Teknik produksi dan pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama tanaman perkebunan. Pertemuan Pembahasan Teknis Perlindungan Tanaman, Direktorat Proteksi Tanaman, Direktorat Jendral Perkebunan. Bogor, 26-29 Juli 1999. 13 p.

Muhammad Arifin
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor


PENDAHULUAN

Ekosistem perkebunan umumnya bersifat relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan ekosistem tanaman semusim. Ekosistem perkebunan dicirikan oleh diversitas struktur komunitas yang relatif tinggi. Susunan jala makanan (food web) pada ekosistem ini bersifat kompleks sehingga populasi suatu jenis organisme (khususnya yang berstatus hama) berada dalam keadaan seimbang, jarang terjadi eksplosi. Ekosistem perkebunan dapat dipertahankan stabil dengan cara memanipulasi lingkungan, sehingga tercipta kondisi yang menguntungkan bagi spesies-spesies untuk saling berinteraksi dalam ekosistem.

Friday, February 19, 2016

Lycosa pseudoannulata: Laba-laba Pemangsa Serangga Hama Kedelai

Arifin, M. 2005. Lycosa pseudoannulata: laba-laba pemangsa serangga hama kedelai. Berita Puslitbangtan. 32: 8-9.


Muhammad Arifin
Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor


Ada 111 jenis serangga hama kedelai di Indonesia. Beberapa jenis di antaranya berstatus penting, antara lain lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), kumbang kedelai (Phaedonia inclusa), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat iengkal (Chrysodeixis chalcites), pemakan polong (Helicoverpa armigera), kepik coklat (Riptortus linearis), kepik hijau (Nezara viridula), kepik punggung bergaris (Piezodorus hybneri), dan penggerek polong (Etiella zinckenella). Selain serangga hama, pada pertanaman kedelai juga dapat dijumpai berbagai jenis arthropoda berguna, antara lain musuh alami (pemangsa dan parasitoid) dan penyerbuk.
Lycosa pseudoannulata Boes. et Str. (Araneae: Lycosidae) merupakan salah satu jenis laba-laba musuh alami yang sering dijumpai pada pertanaman padi dan palawija setelah padi di lahan sawah irigasi. Laba-laba yang dikenal petani sebagai "Lycosa" ini bersifat generalis karena memiliki mangsa berbagai jenis serangga, terutama yang berstatus hama. Peranannya sebagai musuh alami dalam ekosistem pertanian sangat penting, bahkan diperhitungkan dalam pengambilan keputusan pengendalian hama dengan insektisida.

Wednesday, February 17, 2016

Virus Patogen SlNPV, Efektif Mengendalikan Ulat Grayak Kedelai

Arifin, M. dan Bedjo. 2005. Virus patogen SlNPV, efektif mengendalikan ulat grayak kedelai. Berita Puslitbangtan. 34: 9-10.

Muhammad Arifin1 dan Bedjo2
1 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor
2 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang


Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus (SlNPV) merupakan salah satu jenis patogen serangga yang menginfeksi ulat grayak (Spodoptera litura) pada berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, dan industri. Virus ini ditemukan pertama kali oleh penulis pada pertanaman kedelai di daerah Brebes dan Lampung Tengah pada tahun 1985. Mulai saat itu, penelitian untuk memanfaatkannya sebagai agensia pengendalian hayati ulat grayak terus dilakukan secara intensif hingga diperoleh bioinsektisida SlNPV yang efektif (Arifin 2002).
Bioinsektisida SlNPV diproduksi melalui tiga tahap kegiatan, yaitu a) pembiakan masal ulat grayak dengan pakan buatan, b) perbanyakan SlNPV secara in vivo melalui inokulasi, koleksi ulat mati, ekstraksi, sentrifugasi, standarisasi, dan (c) formulasi SlNPV dalam bentuk tepung (wettable powder). Bioinsektisida SlNPV ini berkonsentrasi 3,0 X 108 polyhedra inclusion bodies (PIBs)/g dan berbahan aktif polyhedra 0,3% (1 mg= 1 X 108 PIBs). Dosis aplikasinya 500 g/ha.


Sari: Ubi Jalar Genjah dan Tahan Penyakit Kudis

Rahayuningsih, St.A. dan M. Arifin. 2004. Sari: ubi jalar genjah dan tahan penyakit kudis. Berita Puslitbangtan. 31: 13-15.

St. A. Rahayuningsih1 dan Muhammad Arifin2
1 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang
2 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor


Sejak tahun 1977 hingga saat ini, baru 12 varietas unggul ubi jalar yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, relatif sedikit dibanding varietas unggul tanaman pangan lainnya. Hal ini disebabkan, antara lain oleh rendahnya prioritas penelitian ubi jalar, banyaknya parameter seleksi seperti tipe tanaman, bentuk, warna kulit dan daging umbi, kandungan nutrisi, rasa dan tekstur umbi serta tingkat ketahanan terhadap hama/penyakit (Yusuf et al. 2001), dan rendahnya penyerapan petani terhadap informasi teknologi baru.
Varietas Sari (MIS 104-1) adalah salah satu varietas unggul nasional yang dilepas pada tahun 2001. Berasal dari persilangan antara varietas lokal Genjah Rante (kandungan β-karoten tinggi) dengan varietas Lapis (hasil umbi tinggi), varietas Sari disukai oleh banyak petani, seperti terbukti dari makin meluasnya areal tanam, terutama di Jawa Timur.


Perkembangan Populasi Wereng Batang Coklat Nilaparvata lugens Stal dan Predatornya pada Berbagai Teknik Budidaya Padi

Arifin, M., I.B.G. Suryawan, B.H. Priyanto, dan A. Alwi. 1997. Perkembangan populasi wereng batang coklat Nilaparvata lugens Stal dan predatornya pada berbagai teknik budidaya padi. Jurnal Penelitian Pertanian, Fakultas Pertanian UISU. 16(1): 24-32.

Muhammad Arifin1, Ida Bagus Gde Suryawan2,
Budi Hari Priyanto3, dan Asnimar Alwi4

1 Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor,
2 Instalasi Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar,
3 Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor,
4 Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor


Abstract

Development of Brown Planthopper, Nilaparvata lugens Stal Population and Its Predators at Different Cultural Techniques of Rice Production.  An experiment was conducted in irrigated rice field with a rice-rice cropping pattern in Pemalang district 1995/1996 planting season. The objective was to select a cultural technique that could stabilize brown planthopper (BPH) population. The experiment used a sub-sample design with a two-stage sampling method and a visual observation method of insect population. There were four treatment combinations of planting time (simultaneous and unsimultaneous) and insecticide (with and without insecticide application). Results indicated that during the planting season, the BPH population was relatively stable and fluctuated at a low level, i.e 3.1 - 10.5 hoppers/15 hills, and the predator population fluctuated at a high level, i.e. 9.8 - 23.1 predators/15 hills). At unsimultaneous planting time and without insecticide application, BPH and predator population were higher than those at simultaneous planting time and with insecticide application. At unsimultaneous planting time, the BPH population just before harvest was significantly increased. Therefore, it was suspected that the population would explode in the next planting season. It was concluded that the cultural technique with a combination of simultaneous planting time and without insecticide application was suitable to be applied at the time and location or the experiment. The insecticide application, especially at an unsimultaneous planting time, decreased farmer income and gave opportunity to BPH to explode.
Keywords:  Cultural technique, rice, predator, brown planthopper.

Tingkat Kerusakan Ekonomi Hama Kepik Coklat pada Kedelai

Arifin, M. dan W. Tengkano. 2008. Tingkat kerusakan ekonomi hama kepik coklat pada kedelai. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 27(1): 47-54.


Muhammad Arifin1 dan Wedanimbi Tengkano2
1 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi 
dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor
2 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang


ABSTRACT.  Economic Injury Level for The Bean Bug, Riptortus linearis (L.) on Soybean. Decision-making of pest control based on the economic injury level (ElL) was a judicious step to suppress a high risk of the expensive production cost and environmental disturbance. This experiment was conducted to determine the EIL value for the bean bug as a criterion for decision making of pest control using insecticides. The EIL value was determined by the break-even point principle of the pest control, i.e., a balance between the yield loss due to pest control action and cost of the pest control. The results indicated that soybean yield losses due to the bean bug at different bean bug stadia and plant growth stages could be expressed in a linier regression model: y = - 0.007 + 1.746 x (y= yield loss (%); x= bean bug population (bugs/10 hills). At a population range of 0 to 8 bean bugs/10 hills, the higher the population, the higher the yield loss. The EIL value for the bean bug at different bean bug stadia and plant growth stages were expressed in a multiple regression equation: y = 2.328 + 0.008 x1 - 0.717 x2 [y= the EIL value (bugs/10 hills); x1= cost of the
pest control (x Rp 1,000/ha); x2= soybean price (x Rp 1,000/kg). If the cost to control the pest at different plant growth stages was Rp 240,000/ha and the soybean price was Rp 3,000/kg, then the EIL value for the bean bug was 2.1 bugs/10 hills.
Keywords: Bean bug, soybean, economic injury level