Wednesday, December 4, 2019


BAHAN NABATI UNTUK PENANGANAN TIKUS

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Salah satu jenis hama yang cukup penting dan menjadi kendala dalam pembudidayaan tanaman termasuk jagung adalah tikus. Tikus adalah satwa liar yang seringkali berasosiasi dengan kehidupan manusia. Sebagai hama, tikus mampu merusak tanaman budidaya dalam waktu singkat dan menimbulkan kehilangan hasil dalam jumlah besar sejak di persemaian, pertanaman sampai di
tempat penyimpanan/gudang (hama pasca panen), walaupun hal tersebut dilakukan oleh beberapa ekor tikus saja. Dengan demikian, kerugian yang dialami oleh petani seringkali tidak terduga dan mengakibatkan kerugian yang besar (Priyambodo, 1995; Rukmana dan Sugandi, 1997) dalam Terry Pakki (2009).

Tuesday, December 3, 2019


APA ITU PESTISIDA HAYATI DAN APA SAJA MANFAATNYA?
  
Ayyub Arrrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Pestisida Hayati, merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari berbagai jenis tanaman yang memiliki kandungan spesifik dalam tingkah laku dan metabolisme organisme pengganggu tanaman(OPT) serta bahan lainnya umumnya masih bersifat sederhana dan apabila masuk ke dalam tanah, air akan mudah terdegradasi secara alami dan tidak mencemari lingkungan, relatif lebih aman bagi manusia dan ternak (Anonim, 2012a).

Dalam ekosistem banyak sekali organisme yang berfungsi sebagai pengendali hayati seperti Virus Nuklear Polyhedrosis (NVP) yang mampu menekan populasi hama Spodoptera exigua, dengan menginfeksi alat pencernaan hama Spodoptera selain itu ada jamur seperti Trichoderma Sp, yang mmpu menekan populasi jamur Fusarium sehingga pertumbuhan jamur Fusarium sp terhambat.
Secara keseluruhan habitat hidup mikroorganisme yang banyak berperan di dalam pengendalian hayati adalah di dalam tanah disekitar akar tumbuhan (rizosfir) atau  di atas daun, batang, bunga, dan buah. Mikroorganisme yang bisa hidup pada daerah rizosfir sangat sesuai digunakan sebagai agen pengendalian hayati ini mengingat bahwa rizosfir adalah daerah utama dimana akar tumbuhan terbuka terhadap serangan patogen. Jika terdapat mikroorganisme antagonis pada daerah ini patogen akan terhambat penyebarannya. Keadaan ini disebut hambatan alamiah mikroba dan jarang dijumpai, rnikroba antagonis ini sangat potensial dikembangkan sebagai agen pengendalian hayati (Weller 1988) dalam (Anonim, 2012c).


LALAT BIBIT PADA TANAMAN JAGUNG

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Lalat bibit (Atherigona exigua)
Menyerang tanaman muda, akibat serangannya seringkali mematikan tanaman. Lalat bibit digolongkan ke dalam :
Ordo : Diptera.

Famili : Antomyiidae.

Genus : Atherigona.

Spesies : Exigua.

Lalat berwarna abu-abu, panjang 3-3,5 mm, punggungnya berwarna kuning kehijauan dengan tiga buah garis. Bagian perut berwarna coklat kekuningan. Telur berwarna putih, diletakkan tersebar pada bawah daun. Setelah 2-3 hari telur menetas. Larva yang beru keluar masuk ke dalam upih daun dengan bantuan air (embun). Kemudian masuk kedalam merusak titik tumbuh dan selanjutnya masuk sampai ke pangkal batang. Ulat hidup selama 8-18 hari. Kepompong berwarna kemerah-merahan, kemudian berubah menjadi agak gelap bila kepompongnya telah tua. Kepompong kadang-kadang dibentuk dalam jaringan tanaman, tapi umumnya dibentuk dalam tanah. Umur kepompong rata-rata 8 hari.

Monday, December 2, 2019


PENGGOLONGAN SENYAWA KIMIA PESTISIDA

Ayyub dan Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Pestisida adalah sebutan untuk semua jenis obat (zat/bahan kimia) pembasmi hama yang ditujukan untuk melindungi tanaman dari serangan serangga, jamur, bakteri, virus dan hama lainnya seperti tikus, bekicot, dan nematoda (cacing). Walaupun demikian, istilah pestisida tidak hanya dimaksudkan untuk racun pemberantas hama tanaman dan hasil pertanian, tetapi juga racun untuk memberantas binatang atau serangga dalam rumah, perkantoran atau gudang, serta zat pengatur tumbuh pada tumbuhan di luar pupuk (Omah ilmoe, 2012)

Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis yaitu:
Insektisida adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk, kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh: basudin, basminon, tiodan, diklorovinil dimetil fosfat, diazinon,dll.


PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI UNTUK PERTANIAN DAN KESEHATAN

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida(Anonim, 2012a). Pestisida dari bahan nabati sebenarnya bukan hal yang baru tetapi sudah lama digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian masih dilakukan secara tradisional, petani di seluruh belahan dunia telah terbiasa memakai bahan yang tersedia di alam untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Pada tahun 40-an sebagian petani di Indonesia sudah menggunakan bahan nabati sebagai pestisida, diantaranya menggunakan daun sirsak untuk mengendalikan(Anonim, 2012a).


FENOMENA RESURGENSI INSEKTISIDA
Ayyub dan M. Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

PENDAHULUAN
Yang dimaksud dengan istilah resurgensi suatu hama adalah terjadinya peristiwa peningkatan populasi hama sasaran yang sangat mencolok jauh melampaui ambang ekonomi segera setelah aplikasi suatu insektisida. Resurgensi tidak hanya mencakup pengertian meningkatnya populasi hama sasaran segera setelah selesai pengendalian saja, tetapi juga termasuk berubahnya status suatu hama menjadi hama sasaran (letusan skunder). Peristiwa tersebut terjadi sebagai akibat terbunuhnya musuh alami hama akibat penggunaan insektisida yang berspektrum luas (Untung, 1993; Metcalf, 1982).
Fenomena resurgensi pertama dilaporkan pada penggunaan insektisida jenis Kalium Arsenat, Kriolit, DDT, BHC, Aldrin, Toxapen dana Paration. Pada wereng coklat, fenomena resurgensi dilaporkan oleh Heinrichs dan Mochida (1984) berupa menurunnya tingkat mortalitas, meningkatnya laju reproduksi, memendeknya stadia nimfa, memanjangnya masa oviposisi dan stadia imago, sedangkan Bhudasaman et al. (1992) menemukan bahwa insektisida yang dapat menyebabkan resurgensi adalah Deltametrin.


BEBERAPA JENIS CENDAWAN YANG MENYERANG BIJI JAGUNG

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Menurut Muis et al. (2002) cendawan yang menginfeksi biji dipenyimpanan dapat bersumber dari cendawan yang menyerang tanaman jagung di lapangan, hal ini bisa terjadi apabila penanganan pasca panen kurang bagus. Hasil survey yang dilakukan Muis et al. (2002) menunjukkan bahwa dari sampel-sampel biji jagung yang dikumpulkan di lapangan, di rumah petani, dan gudang penyimpanan, menunjukkan bahwa ada tujuh spesies cendawan yang menyerang biji jagung yaitu Diplodia sp., Fusarium sp., Pennicillium sp., Clados-porium sp., Rhizopus sp., Aspergillus spp., dan Trichoderma sp. Dari ketujuh spesies cendawan tersebut yang dominan adalah Aspergillus spp. Pakki et al (2002) mengemukakan bahwa spesies Aspergullius yang dominan ditemukan tersebut adalah A. flavus, selain itu juga ditemukan A. niger namun populasinya rendah.