Folder

Folder ini menyimpan makalah-makalah saya yang telah diterbitkan maupun yang tidak (masih berupa draft), baik dari makalah disiplin hama dan penyakit tanaman maupun makalah diluar disiplin hama penyakit tanaman :  


Makalah Yang Diterbitkan :

Densitas Populasi Musuh Alam (Predator) Hama Utama Tanaman Jagung Di KP. Maros dan KP. Bajeng Balitsere Pada Beberapa Umur Tanaman. M.Sudjak Saenong 1) , Irma 2), Suci Reskiani 2), Yulia Indayani 2), Astri Febriana Iffaf 2), Yuni 3), Rahmawati 3)

ABSTRAK

Kajian densitas populasi musuh alami jenis predator hama utama tanaman jagung antara dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Maros dan Kebun Percobaan KP. Bajeng Kabupaten Gowa Balai Penelitian Tanaman Serealia pada tahun 2018. Penelitian menggunakan teknik patroli langsung, yakni dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan untuk mencatat keberadaan dari musuh alam. Musuh-musuh alam tersebut diamati merujuk pada panduan Shepard et al. (1987) tentang serangga yang bermanfaat bagi pengendalian hayati hama tanaman pangan. Identifikasi terhadap keberadaan musuh alam tersebut dilakukan pada beberapa stadia tanaman jagung dan pada rumput atau habitus tanaman di sekitar wilayah pengamatan sebagai pembanding. Penentuan sampel tanaman dilakukan pada petak-petak dan blok-blok penelitian yang ada disekitar KP. Maros dan KP. Bajeng (Gowa) Balitsereal. Petak pengamatan menggunakan 3 ulangan dengan mengambil sampil 20-30 sampel tanaman tiap ulangan atau total pengamatan tanaman mencapai 60-90 unit pengamatan/blok. Ulangan adalah petak yang dibagi menjadi 3 kavling pengamatan yang luasnya disesuaikan dengan luas dan panjang petak petak penelitian. Dilakukan pencatatan terhadap jumlah populasi serangga musuh alam dengan menghitung jumlahnya pada setiap petak ulangan dalam dengan memotret semua semua jenis serangga yang ditemukan pada tanaman kemudian hasil diidentifikasi sesuai buku pandunan. Hasil pencatatan ditabulasi untuk mengetahui total rata-rata jumlah populasi musuh alam yang nampak pada petak/blok pengamatan.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa di KP.Maros, musuh alam yang teridentifikasi dan ditemukan dilokasi pengamatan ada 8 jenis masing-masing adalah Harmonia octomaculata (Fabricius) disebut juga kumbang kubah, Agriocnemis pygmaea (Rambur) atau capung jarum, Micraspis sp. atau kumbang coccinelid, Oxyopes javanus (Thorel) atau laba-laba mata tajam, Conocephalus longipennis (de Haan) atau belalang, Lycosa pseudoannulata (Boesenberg dan Strand) atau laba-laba serigala, Limnogonus fossarum (Fabricius) atau kepinding air, Tetragnatha maxillosa (Thorell) atau laba-laba rahang panjang. Sedangkan pada pengamatan di KP. Bajeng, musuh alam yang ditemukan antara lain Agriocnemis pugmeae (Rambur), Conocephalus longipennis (de Haan), Menochilus sexmaculatus (Fabricius), Limnogonus fossarum (Fabricius), Lycosa pseudoannulata (Boeassenberg dan Stand), dan Selenopsis geminata (Fabricius).

Pengendalian Hama Kumbang Bubuk pada Tanaman Jagung Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya dan Penanganan Hasil. Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Hama kumang adalah salah satu jenis hama jagung yang secara nyata dilapangan menurunkan produksi dan merusak kualitas bahan simpan. Oleh sebab itu penanganan hama kumbang seyogianya dilakukan secara simultan dengan menerapkan semua teknologi yang selama ini telah diterapkan. Hama ini menjadi sangat penting karena kerusakan yang diakibatkannya dapat mencapai angka 30% dari total produktivitas tanaman, ini belum dihitung dari nilai kerugian sebagai akibat menurunnya kualitas bahan yang dapat merusak kesehatan dan keamanan baik sebagai pangan maupun pakan. Kontaminasi jamur aflatoxin contoh, merupakan salah satu jenis penurunan kualitas bahan yang berbahaya apabila terkonsumsi. Tulisan ini mencoba memaparkan peran teknologi budidaya dan penanganan pascapanen dalam menurunkan skala kerusakan dan peningkatan nilai tambah dari produksi dan perbaikan kualtas bahan simpan sehingga aman digunakan baik sebagai pangan maupun pakan.

ABSTRAK
Sumber daya alam plasma nutfah tanaman rempah Indonesia sangat banyak dan beragam yang tumbuh di hampir seluruh wilayah nusantara. Tanaman ini dapat tumbuh dan beradaptasi pada kondisi agroekologi dan agroekosistem yang cukup beragam, mulai dari wilayah yang beriklim kering sampai yang beriklim basah. Pada umumnya pemanfaatan tanaman ini oleh masyarakat masih terbatas sebagai bahan rempah dan bumbu untuk kuliner, penyedap masakan dan penyedap cita rasa, pada hal potensi senyawa bioaktif yang dikandungnya sangat berguna dan manjur dibuat pestisida nabati untuk membasmi hama dan penyakit tanaman, serta bahan obat kesehatan manusia. Tulisan ini membahas manfaat dan kemanjuran dari beberapa tanaman rempah yakni tanaman sereh, bawang merah, bawang putih, lombok merah, cengkeh, kencur, dan lada sebagai pestsisida nabati dalam berbagai tingkat dosis dan ragam perlakuan. Juga dibahas mengenai kendala dan strategi pengembangannya untuk memberi informasi ilmu dan teknologi penanggulangan hama kumbang bubuk Sitophius zeamais Motsch pada biji jagung dipenyimpanan. Diharapkan tulisan ini bermanfaat bagi penentu kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang punya kompetensi menangani masalah hama kumbang.

Pengelolaan hama kumbang bubuk melalaui pemanfaatan varietas unggul yang tahan. M.Sudjak Saenong dan A.Burhanuddin

ABSTRAK
Kumbang bubuk adalah salah satu hama gudang yang paling merusak pada periode penyimpanan. Penyusutan bobot akibat serangan hama ini dapat mencapai 21% sedangkan kehilangan hasi yang diakibatkannya dapat mencapai angka 30%. Perakitan varietas agung untuk ketahanan hama kumbang bubuk di indonesia masih belum banyak dilakukan untuk aspek penutupan klobot. Menurut Painter (1968), kelobot yang tertutup dan lebih panang dari tongkolnya dapat mengurangi ineksi hama hama kumbang bubuk sejak bii masih berada dilapangan. Lapisan luar biji jagung yang tersusun dari jaringan maternal adalah faktor utama ketahanan tanaman dalam mencegah hama kumang bubuk meletakkan telur (Kim et.al 1988), sedangkan Windstrom (1975) menemukan 6 galur murni jagung tropis yang tahan hama kumbang bubuk dengan karakter utama terletak pada struktur kotiledon biji. Secara umum Tadesse et.al 1994 menemukan bahwa ketahanan agung terhadap hama kumbang bubuk lebih ditentukan oleh faktor genetika yang dapat dibagi dua yakni yang bersifat nonprefernsi dalam hal meletakkan telur, makanan dan tempat berlindung, dan antibiosis yakni mempunyai efek menracun terhadap serangga

Keragaan hasil teknologi pengelolaan hama kumbang bubuk pada tanaman jagung dan sorgum. M. Sudjak Saenong dan S. Mas’ud

ABSTRAK 
Tulisan ini membahas tentang hasil-hasil penelitian/kajian teknologi pengelolaan hama kumbang bubuk pada tanaman jagung dan sorgum yang dilaksanakan di Balitsereal Maros. Komponen teknologi yang berbasis pada penggunaan sumber/bahan nabati sebagai pestisida alami seperti penggunaan tanaman Lantana camara, Ageratum conysoides, Andropogan nardus, dan Capdicum annum yang efektivitasnya disandingkan dengan pestisida pembanding yang efektif menekan hama target seperti Decis 2,5 EC dan Dursban dengan konsentrasi bahan aktif 0,1 %. Aspek lain yang dikaji adalah efek repellensi (penolakan) dari serangga target oleh penggunaan beberapa tanaman uji seperti Zingiken Zerumbet, Z. Americans, Acarus casamus, Abrus precorpius, Caesolpinia sappana. Di samping itu upaya pencarĂ­an sumber-sumber ketahanan juga dilakukan yakni mencari sumber ketahanan dan faktor genetik yang berpeluang untuk dipindahkan kepada varietas unggul dengan seleksi S1 yang waktu siklusnya mencapai tiga periode pertanaman

Pengendalian hayati hama penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae) Biological Pest Control of Corn Stemborer Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae). M. Sudjak Saenong dan J. B Alfons

ABSTRACT
Pest of corn stemborer is the most dominant destroying pest in corn cropping. The pest can destroy not only part of the corn stem, but also the part of crop leaves, flowers and even the cobs. Effects of the attack from this pest will cause the problem of nutrient translocation, which decreases the yield by 20 - 80 %. One way to control the pest of corn stemborers (Ostrinia furnacalis Guenee) is by biological control with the exploiting of microorganism pathogenic. This article aims to study the biological pest control of corn stemborer with the exploiting of fungi Beauveria bassiana and Metarhizum anisopliae. Exploiting efficacy of microorganism in overcoming the problem of crop pest can give much contribution in applying the Integrated Pest Management (PHT).

Kajian akses makan kumbang bubuk pada tanaman jagung oleh perbedaan varietas dan bentuk biji. Syahrir Masud dan M.Sudjak Saenong

ABSTRACT
Research aimed to see the effect of varietal differences and seed types to the preference of Sitophilus sp. in their food searching had done at Balitjas Laboratory. Research was arranged in Randomized Completely Design replicated 4 times. One hundreds seed consists of 4 varieties which were categorized into two seed types i.e flat and cylindrical were isolated in a small glass then put together into rounded big jar that arranged circulary. As much as 400 of homogenous adult insect were exposed to the jar in the dense of 50 insect per glass. Number of insect that sticked on each glass and their mortality were noticed at 24,48 and 72 hours after insect exposure. Other parameters that also noticed were, seed damage, weight losses and the progenies appearance. Result indicated that insect preference that found in Semar-2 and Lokal Putih varieties was more higher than that of Arjuna as well as Koasa both that scored in flat seed type and cylindrical. Progenies appearances, rate of insect damage and weight declination were also more higher found in Semar-2 and Lokal Putih varieties than of Arjuna and Koasa.

Infeksi cendawan aspergillus sp pada beberapa varietas/galur jagung hybrida umur dalam. Sutjiaty dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui infeksi cendawan Aspergillus sp. Pada beberapa varietas/galur jagung hibrida umur dalam. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium. Penyakit Tanaman Balai Penelitian Tanaman Serealia dari bulan Nopember 2000 – Mei 2001. Enam belas varietas/galur hibrida umur dalam yaitu : STJ 9904, STJ 9902, Bisma, ST 9909, ST 9901, ST 9907, Pioneer-7, ST 9906, ST 9903, ST 9902, ST 9904, STJ 9901, ST 9908, ST 9905, BISI-2, STJ/1/10/4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Pioneer-7, BISI-2, Bisma, dan galur STJ 1/10/4, ST 9905, ST 9908, ST 9902 relatif tahan terhadap infeksi jamur Aspergillus sp.

Resensi teknologi hasil-hasil penelitian beauveria bassiana untuk penanganan opt jagung. J.Tandiabang, M.Yasin dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
In Indonesia, the use of microorganisme for controlling insect pest on corn had not been populary applied. However, the use of fungi such as Beauveria bassiana Vuill. recently seemed had paid attention by government. It is prospective to be developed as biological agent. The use of B. bassiana Vuill. as biological agent is chosen due to its compatibility to the other control agent and its low cost in mass production as well. On the other hand, the technology appliance used seem neither complicated nor capital coasted. Several field trial of B. bassiana capable to control corn stemborer Ostrinia durnacalis significantly. This paper is review of the use of B. bassiana Vuill. as an agent of biological control to overcome the problem on pest crop especially corn plant.

Dampak serangan belalang terhadap pendapatan petani jagung didesa tolo barat kecamatan kelara kabupaten jeneponto sulawesi selatan. Margaretha SL dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penelitian dampak serangan hama belalang (Grasshopper) terhadap pendapatan petani jagung dilaksanakan di Desa Tolo Barat, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto pada bulan Oktober 2005. Metode yang digunakan adalah metode survei sedang untuk pengambilan data primer digunakan metode acak sederhana (Simple Random Sampling) dengan mengambil 25 petani jagung yang selanjutnya diwawancarai dengan menggunakan daftar pertanyaan (questioner). Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana dampak serangan hama belalang terhadap pendapatan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memberantas hama belalang, hanya 24% petani yang menggunakan insektisida reagent itupun dengan dosis yang sangat rendah yakni 0,95 l/ha sedang 76% lainnya tidak menggunakan insektisida. Hal ini selain disebabkan karena petani tidak memiliki modal yang cukup, juga karena adanya kepercayaan setempat bahwa belalang tidak boleh dibasmi dengan insektisida sebab jika dibasmi, belalang akan datang lebih banyak lagi. Akibat serangan belalang yang menyerang lebih dari 8 ekor bahkan ribuan ekor, petani mengalami kehilangan hasil sebanyak 1,8 t/ha atau senilai Rp 2.281.817. Belalang dapat dicegah ketika mereka masih berbentuk nimpha atau dengan cara mengistirahatkan lahan/areal pertanaman terutama pada pertengahan bulan Juni sampai awal Juli sebab pada saat itu belalang menetaskan telurnya.

Dampak sistem penyimpanan jagung ditingkat petani terhadap mutu benih jagung. Margaretha SL, Rahmawati, Sania Saenong dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penelitian dampak sistem penyimpanan benih jagung ditingkat petani terhadap mutu benih jagung, dilaksanakan di kabupaten Jeneponto dan Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Januari – Juni 2004. Bentuk survei digunakan dengan metode berstruktur dan PRA dengan tujuan untuk melihat sejauhmana dampak sistem penyimpanan benih jagung ditingkat petani terhadap mutu benih jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penyimpanan benih yang diseleksi mulai dari penentuan waktu panen, cara panen, cara menyimpan benih, cara memilih benih, tempat penyimpanan benih, lama penyimpanan, kadar air dalam penyimpanan, tempat pengeringan biji bahkan persentase benih campur dan benih pecah menunjukkan bahwa keputusan petani dalam menyeleksi dan merawat benih jagung sangat berpengaruh (pada taraf 1%) terhadap mutu benih jagung yang akan ditanam pada musim berikutnya. Hal ini sangat didukung dengan hasil laboratorium dimana biji jagung yang disimpan petani mengandung kadar air antara 14,38% - 15,51% di kabupaten Jeneponto dan 13,89% - 19,97% di kabupaten Bulukumba. Tingginya kadar air benih jagung yang disimpan petani di kabupaten Bulukumba (19,97%) berdampak pada biji berjamur (19,94%) yang dapat menurunkan mutu benih jagung.

Hasil-hasil teknologi penelitian hama tikus. Syamsuddin dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Berbagai komponen pengendalian hama tikus yang telah dilaksanakan baik secara sendiri-sendiri maupun secara terpadu antara lain manipulasi habitat (sanitasi, tertib tanam, perbersihan vegetasi sekitar sawah, perampingan pematang), pengendalian fisik/mekanik (gropyokan, perangkap bubu, perangkap sejuta bambu, tanaman perangkap, letupan mercon), pengendalian biologis (predator, parasit, patogen) dan pengendalian kimiawi (emposan dan rodentisida) di beberapa tempat hasilnya sangat beragam tergantung pada aktivitas dan dinamika petani/kelompoktani dan keterlibatan faktor eksternal yang ada di lokasi. Keberhasilan usaha pengendalian tikus akan sangat bergantung dari keberlanjutan aktivitas pengendalian secara bersama pada kawasan yang luas. Penggunaan teknologi yang tepat dan pemahaman sifat-sifat bioekologi tikus yang memadai juga akan menunjang keberhasilan usaha pengendalian. Tulisan ini memaparkan temuan-temuan hasil penelitian yang merupakan komponen teknologi yang mendukung dan kondusif bagi upaya-upaya pengendalian.

Efikasi insektisida meteor 25ec Spodoptera litura, Helicoverpa armigera dan Ostrinia furnacalis pada tanaman jagung. M.Yasin, Rugayya dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penelitian efikasi insektisida meteor 25 EC terhadap ulat grayak Spodoptera litura, Penggerek Tongkol Helicoverpa armigera, dan penggerek batang Ostrinia furnacalis pada tanaman jagung telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Bontobili Gowa pada tahun 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 6 perlakuan dengan 5 ulangan. Pada petak yang berukuran 8 m x 5 m ditanam jagung varietas Bisma, dua tanaman per lubang. Aplikasi insektisida dilakukan pada 3, 5, 7 minggu setelah tanam (MST). Berdasarkan nilai efikasi insektisida (EI) Meteor 25 EC konsentrasi 2,0 ml/l dan 4,0 ml/ha efektif mengendalikan S. litura, H. armigera, dan O. furnacalis. Kerusakan tanaman oleh hama S. litura, H. armigera, dan O. furnacalis pada Meteor 25 EC konsentrasi 2,0 ml/l dan 4,0 ml/l lebih rendah dibandingkan perlakuan Buldok 25 EC konsentrasi 2,0 ml/l.

Uji kemanjuran insektisida carbofuran 3G dan dimehypho 400wsc untuk pengendalian hama padi sawah. Syamsuddin dan M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Kajian efikasi Carbofuran 3G dan Dimehypo 400 WSC pada padi sawah telah dilaksanakan di lahan irigasi di Kelurahan Lompoloang Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, dari bulan Juli sampai Nopember 2005. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah pemberian insektisida Carbofuran 3G dan Dimehypo 400 WSC. Varietas Ciliwung dengan dipupuk urea 200 kg/ha dan KCL 100 kg/ha, jarak tanam 25 cm x 25 cm digunakan sebagai uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kontrol (tanpa insektisida) memperoleh serangan hama tertinggi, sedang perlakuan Furadan 3G + Dimehypo 400 WSC diperoleh serangan yang terendah. Hasil gabah kering panen tertinggi diperoleh perlakuan Carbofuran 3G + Dimehypo 400 WSC 7,83 t/ha.

Efikasi insektisida meteor 25ec terhadap belalang pada tanaman jagung. M.Yasin, Rugayya, M.Sudjak Saenong dan K.Ayu Parawangsa

ABSTRAK
Pengujian lapangan efikasi insektisida meteor 25EC terhadap belalang locusta sp. pada tanaman jagung di laksanakan di Kebun Percobaan Maros Kabupaten Maros pada tahun 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, 6 perlakuan dengan 5 ulangan. Sebagai perlakuan Meteor 25EC konsentrasi 0,5 ml/l, Meteor 25EC konsentrasi 1,0 ml/l, Meteor 25EC konsentrasi 2,0 ml/l, Meteor 25EC konsentrasi 4,0 ml/l, Buldok 25EC konsentrasi 2,0 ml/l dan Kontrol (tanpa insektisida). Tanaman umur 2 bulan pada setiap petak dipilih tanaman untuk disungkup dengan kurungan yang berukuran 60 cm x 60 cm x 75 cm. Tiap petak percobaan (0,8 m x 2 m) satu kurungan. Tanaman dalam kurungan yang telah disemprot dibiarkan kurang lebih 10 menit dikering anginkan, lalu diinfestasi 20 ekor nimfa dan 20 ekor belalang dewasa. Hasil penelitian menunjukkan Insektisida Meteor 25EC semua konsentrasi efektif mengendalikan hama belalang baik dalam stadia nimfa maupun dewasa, dengan nilai EI ≥ 50%. Insektisida Meteor 25EC konsentrasi 1,0 ml/l, 2,0 ml/l, dan 4,0 ml/l mempunyai nilai EI masing-masing 90%, 92%, dan 100% untuk stadia nimfa dan 86,00%, 90,60%, 94,20% untuk stadia dewasa.

Kecenderungan serangga sitophilus zeamais motch mengakses jagung dan sorgum sebagai sumber makanan. Syamsuddin dan M. Sudjak Saenong

ABSTRACT
This writing analyzed insect dynamic of Sitophilus sp. in finding food sources caused by light effect (light interference), sex differences and the effect of the concering plant (scouring sand, charcoal, lemon grass leaves, onion leaves, clove leaves, dringo leaves, husk dust) to damage intensity. There are differences of insect tendency in seeking food on dark and bright conditions. Preference trend increased noted on white corn and shorgum (UPCASI variety) on mixed treatments, even trend was noted on shorgum variety ICSH 1222 and wray, decreasing one was noted on variety IS3552 and yellow maize. Preference trend of the insect female on UPCASI and ICSH 1222 tend to increase, the others were fluctuative, while decreasing one was noted on varieties Wray and yellow corn. On concerning plant materials, it was indicated that the use of charcoal, husk dust, and dringo leaves could suppress Sitophilus infestation with the damage level of 2.25%, 5.18%, and 3.37% respectively, while the control was 17,2%.

Pembiakan massal (Mass Rearing)ngengat beras (CorcyraCephalonicastaint.) pada beberapa media . Uvan Nurwahidah dan M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Kajian pembiakan massal (mass rearing) ngengat beras (Corcyra cephalonica Staint) pada beberapa media pakan telah dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2002 di Laboratorium Agensi Hayati, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sulawesi Selatan. Penelitian terdiri dari 7 perlakuan dan 3 ulangan yang menggunakan rancangan acak lengkap. Susunan perlakuan adalah media pakan yang terdiri atas : tepung beras (TB), tepung jagung (TJ), pakan ayam (PA), dedak (DD), tepung beras + pakan ayam (TBP) perbandingan 1:1, tepung jagung + pakan ayam (TJP) perbandingan 1:1, dan dedak + pakan ayam (DPP) perbandingan 1:1. Variabel yang diamati adalah tingkat perkembangan populasi C. Cephalonica pada media uji. Hasil penelitian disimpulkan bahwa media dedak + pakan ayam (DDP 1:1) merupakan media yang paling cocok untuk perkembangan C. Cephalonica. Seekor ngengat betina yang dibiakkan pada media pakan ayam menghasilkan jumlah telur terbanyak dari semua perlakuan yang dicobakan (163,67) butir.

Teknologi pergiliran varietas padi bermutu. Uvan Nurwahidah dan M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penanganan OPT padi sawah melalui teknologi pergiliran varietas padi bermutu yang telah diterapkan di Sulawesi Selatan berdampak positif dan memberi jaminan terhadap keamanan produksi padi dari gangguan hama dan penyakit padi. Ledakan tungro yang terjadi tahun 1972 – 1984 dan 1985 – 1994 yang menghanguskan pertanaman masing- masing 16.423 ha dan 6.874 ha terjadi karena pada kurun waktu tersebut belum ada karena pergiliran varietas dalam penangan masalah tungro. Penerapan konsep teknologi gilir varietas dapat mengurangi jumlah pemakaian pestisida dan peningkatan produktivitas lahan dapat terjaga, mantap dan bersinambung.

Pengaruh perbedaan varietas terhadap pemilihan  serangga pada sumber makanan (Studi KasusKajian Preferensi Makan Hama Sitophilus Zeamais Motch). Syahrir Mas’ud dan M.Sudjak Saenong

ABSTRACT
Research on the insect preference of the Sitophilus zeamais Motch in the difference varieties had done at Balitsereal Laboratory. Research was arranged in randomized completely design replicated 4 times. Ones hundreds seed consist of 7 varieties i.e. Aruba, Semar-2, Bisma, Wisanggeni, Gm27, GM30 and Rama were isolated in a small glass and then put together in to a rounded big jar arranged circulary. As much as 400 of homogenous adults insect were exposed to the jar in the dense of 50 insect per glass. Number of insect that existed on each glass and their mortality were noticed at 24,48 and 72 hours after insect exposure. Other parameter that also noticed were seed damage, weight losses and progenies appearance. Result indicated that preference above 10% in all interval were found in Semar-2 variety. Furthermore, the progenies appearance, weight losses were also noticed more higher found in Semar-2 that of other tested varieties. This phenomenon gave an indication that Semar-2 variety was grouped as preferred food of the insect.

Pengendalian ulat grayak, spodoptera litura pada  tanaman jagung dengan bioinsektisida. M.Yasin dan M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Pengendalian Ulan grayak, Spodoptera litura pada tanaman jagung dengan bioinsektisida dilakukan di Kabupaten Maros MT. 2002. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 5 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah aplikasi cendawan Beauveria bassiana pada (A) 2 MST, (B) 2 MS, 3 MST, (C) 2 MST, 3 MST, 4 MST, (D) 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST, dan (E) kontrol (tanpa aplikasi). Jumlah konidia dari cendawan B. bassiana yang digunakan aplikasi adalah 1013 konidia/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioinsektisida cendawan B. bassiana yang diaplikasikan dengan konsentrasi 1013 konidia/ha dapat menekan padat populasi dan tingkat kerusakan daun yang diakibatkan oleh hama ulat grayak Spodoptera litura pada tanaman jagung.

Perspektif kinerja hasil-hasil teknologi pemanfaatan Trichogrammaspp. sebagai agensia pengendali hayati hama jagung dan komoditas lain . M.S.Pabbage dan M. Sudjak Saenong

ABSTRACT
Trichogramma spp. (Hymenoptera : Trichogrammatidae) is one of the egg parasitoids that had long been used as a biological agent on some pest crops in Indonesia, i.e. rice crop, sugarcane (for the control of stem and shoot borer), in soybean (for the control of pod borer and leaf miner), in cotton crop (for the control of pod borer), in tomato crop (for the control of fruit borer), in corn plant (for the control of corn stem borer and ear borer). Data of some field trials showed that the parasitism of this biological agent ranging from 90-100% in controlling the target pest. This paper reviewing some data of the Trichogramma spp. trial on some crop. It is hope that the data will support some information of the technique and technology in overcoming the corn pest problem.

Pengelolaan hama kumbang bubuk melalui penciptaan varietas tahan. M. Sudjak Saenongdan Sutjiati, M.

ABSTRAK
Selama periode penyimpanan bahan, kerusakan akibat infestasi Kumbang Bubuk dapat mencapai angka 21%. Kerusakan tersebut akan berpengaruh terhadap bobot biji atau rusaknya kualitas biji selama proses penyimpanan yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga lebih dari 30%. Upaya penyelamatan produk simpanan telah banyak dilakukan seperti sanitasi tempat-tempat penyimpanan bahan (gudang), penurunan kualitas kadar air bahan sebelum disimpan, fumigasi dan penggunaan beberapa bahan nabati yang dicampur dengan bahan simpan. Hasilnya setelah dievaluasi cara ini belum memberikan hasil yang memuaskan karena kualitas serangan masih cukup tinggi. Oleh sebab itu penggunaan varietas tahan adalah cara yang terbaik bila dipilih sebagai salah satu komponen tehnologi alternatif dalam menekan serangan hama kumbang bubuk pada periode penyimpanan bahan. Beberapa hasil teknologi pembentukan varietas/galur yang tahan yang dilanjutkan dengan upaya penyaringan galur terhadap tekanan serangga, dan kajian heritabilitas ketahanan genotip yang digunakan untuk mengukur ratio ragan genotip terhadap ragam total dalam pendugaan kemajuan suatu seleksi galur, dinamika serangga dalam mengakses sumber makanan oleh pengaruh varietas dan bentuk biji juga disajikan dalam makalah ini.

Populasi cecopet pada beberapa tanaman jagung varietas bimadan calon hibrida (Pengamatan Lapangan Pada Visitor Plot Gelar TeknologiBalitsereal). M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Pengamatan densitas populasi cecopet (Euborellia sp) pada visitor plot gelar teknologi Balitsereal telah dilakukan pada tahun 2010. Pengamatan dilakukan pada 40 petak/blok atau 10 tanaman dengan 4 ulangan pada petak ukuran 5 x 5 m. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah populasi serangga musuh alam dewasa yang dapat dilhat dengan mata. Hasil pengamatan ditabulasi untuk mengetahui total rata-rata jumlah populasi musuh alami yang nampak pada setiap petak. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa populasi cecopet bervariasi baik pada varietas Bima mupun Calon hibrida. Terlihat bahwa pengamatan pada varietas Bima populasi terendah tercatat pada varietas Bima 5 (0,53 ekor/tanaman) dan tertinggi pada varietas Bima 4 (0,86 ekor/tanaman), demikian pula pengamatan pada Calon hirbida, terlihat bahwa populasi terendah pada varietas Calon hibrida 5 (0,75 ekor/tanaman), dan yang tertinggi pada Calon hibrida 4 (1,13 ekor/tanaman).

Pengamatan kuantitatif dan kualitatif cekaman biotik dan abiotik pada pembentukan varietas hibrida bima-5. M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Dalam rangka menjaga agar penelitian dapat berhasil dengan baik maka upaya penanganan cekaman
biotik dan abiotik pertanaman dilapangan pada penelitian pembentukan varietas hibrida Bima-5 oleh
pengaruh pemberian kalium telah dilakukan. Penanganannya dilakukan secara langsung yaitu dengan
mengamati jumlah tanaman yang terinfeksi/dirusak oleh hama dan penyakit, serta kerusakan kualitatif terhadap OPT pada setiap pertumbuhan tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara kuantitatif tercatat bahwa prosentase tanaman yang mati dan bergejala kuning tercatat masih sangat rendah yakni berkisar antara 2.87-8.33% (untuk tanaman mati) dan 3.22-6.11% (untuk tanaman kuning). Pada pengamataan kualitatif tercatat bahwa yang menyerang adalah hama semut merah dan belalang (fase I), penggerek tongkol dan belalang (fase IV), sedang penyakit bulai (fase II dan III), busuk batng dan tanaman kuning (fase V). Pengamatan cekaman abiotik di Gowa nampak, pada awal pertumbuhan, sedikit terjadi kegenangan pada plot yang berdekatan dengan saluran irigasi tersier yang ada di lapangan sebagai akibat oleh limpahan air dari pengairan. Terdapat adanya kerusakan daun dengan intensitas kerusakan sedang (++), tercatat pada lokasi yang berdekatan dengan jalan yang diakbatkan oleh percikan herbisida pada dilakukan penyemprotan. Waktu panen terjadi hujan deras sehingga semua plot pengamatan tenggelam yang berakibat pada basahnya tongkol panen dan tongkol sampel pengamatan. Sedangkan pengamatan cekaman abiotik di Maros (Camba) nampak terjadi kekeringan selama 7 hari sejak setelah tanaman dipupuk I (tidak ada hujan sama sekali). Ada limpahan air dari petak plot yang lebih tinggi ke plot yang lebih rendah yang menyebabkan tercabutnya beberapa akar tanaman utamanya yang dapat pada plot bahagian tengah. Ada kerusakan daun berupa bercak putih yang menyebar secara sporadis pada semua plot penelitian (hamparan) yang disebabkan oleh percikan herbisda pada waktu pemberantasan gulma.

Pemanfaatan direktori uniform resource locator untukmemudahkan pencarian lokasi sumber informasi hama penyakit tanaman. M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Trend saat ini kelihatannya kebanyakan peneliti dan penulis makalah sudah mulai kurang tertarik mencari rujukan-rujukan informasi ilmiah melalui perpustakaan konvensional. Hal ini disebabkan karena secara umum biasa perpustakaan konvensional itu menampilkan sosok kurang menarik untuk dikunjungi, kondisi buku yang tidak tertata baik, berdebu, kotor, pencarian item bacaan masih menggunakan daftar katalog yang dicari secara manual, pelayanannya lambat, pelayan yang kurang ramah dan kurang tanggap pada kepentingan pengunjung menjadi salah sebab utama dari menurunnya angka kunjungan. Solusi yang bisa menjadi salah satu jalan keluar saat ini masih bertumpu pada pemanfaatan perpustakaan digital, akan tetapi pada banyak kasus pengunjung masih belum bisa mengakses sumber informasi yang mereka perlukan karena rumitnya alur pencarian yang ditawarkan panel penuntun. Solusi lain yang bisa menjadi pilihan yang mudah adalah dengan memanfaat fasilitas direktori uniform resource locator yang dapat dibuat sendiri denga memanfaatkan semua jenis engine search, baik itu versi google, bing, yahoo, searchnu maupun engine search lainnya.

Beberapa produk baru insektisida untuk organisme pengganggutanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan. M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Tulisan ini akan memaparkan beberapa produk insektisida terbaru untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman pangan (padi dan palawija) dan beberapa tanaman perkebunan dan industri. Insektisda tersebut mempunyai berbagai jenis bahan aktif dan dosis aplikasi menurut jenis tanaman dan hama target. Bahan‐bahan aktif tersebut antara lain dimehypo 410 g/l, buprofezin 100 g/l, difenokonazol 255 g/l, karbofuran 3%, imidakloprid 10%, mankozeb 70% + karbendazim 10%. Insektisida ini efektif digunakan untuk mengendalian OPT tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan. Diharapkan tulisan ini dapat menyumbang informasi yang berguna bagi petani dan pengguna insektisida dan juga para peneliti hama dan penyakit tanaman.

Dampak aplikasi insektisida terhadap keberadaan musuh alami .M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penelitian resurgensi terhadap wereng coklat pasca aplikasi Dimehypo, Karbosulfan dan Imidokloprid pada beberapa tingkat dosis telah dilakukan di Kabupaten Maros dan Pangkep. Penelitian menggunakan insektisida pembanding Fentoat 60EC untuk melihat trend peningkatan populasi akibat aplikasi insektisida. Fenomena di lapang terlihat bahwa aplikasi insektisida Dimehypo, Karbosulfan dan Imidokloprid belum nampak memperlihatkan adanya gejala resurgensi pada perlakuan pembanding resurgensi Fentoat 60EC. Pada perlakuan Fentoat 60EC trend peningktan populasi sesudah aplikasi terlihat meningkat, sedangkan terhadap perkembangan musuh alam belum nampak adanya penurunan yang drastis, bahkan yang terjadi justru sebaliknya yakni musuh alam sedikit memperlihatkan trend perkembangan yang meningkat.

Beberapa senyawa pestisida yang berbahaya .M. SudjakSaenong

ABSTRAK
Kerusakan lingkungan sebagai dampak dari penggunaan teknologi produksi sekarang dirasakan dimana-mana. Fenomena tersebut sebagai akibat penerapan teknologi yang kurang bijaksana, tidak ramah lingkungan dan tidak tepat sasaran. Tulisan ini mengangkat beberapa senyawa kimia pestisida yang telah diteliti dan tercata sebagai bahan yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

Kajian akses makan serangga hama kumbang bubuk sitophiluszeamaismotch pada beberapa varietas jagung dan upaya pengelolaannya .M. SudjakSaenong

ABSTRACT
Generally, the insect behavior is affected by several environmental factors i.e. physic, chemical, and biology compared of RH, temperature light, and food as well as variety (quality and texture). This paper explained about phenomena of two research activities that assessed feeding pattern of Sitophilus sp. given forced food access with different variety treatments and seed shaper. Phenomena assessment of feeding pattern consisted of two trial activities i.e. the effect of maize variety differences to feeding pattern and tendency of insect test in choicing food sources with notice proportion of more than 10% at all treatments that this variety was categorized preferred food. It was supported by high damage, progeny emergence, and weight reduction data. On seed shape trial, it seemed that the insects were more preferred than round seed. The progenies, damage level, and weight reduction noted on varieties Semar-2 and white local were higher than other varieties. In this writing, it is also explained the effort of Sitophilus management that were refereed to to the available technology.

Pengawalan organisme pengganggu tanaman (opt) pada hamparanpetani binaan penangkar benih jagung di kabupaten lombok timur. M.SudjakSaenong

ABSTRAK
Pengamatan keberadaan OPT pada hamparan petani binaan penangkaran benih jagung komposit di Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat dilakukan dengan motode patroli pasa plot pengamatan yang diubin secara acak dala 4 ulangan dengan luas ubinan 10 x 10 cm. Hasil pencatatan menunjukkan bahwa terdapat serangan kutu daun dengan derajat serangan rendah yang tersebar secara sporadic pada daun tanaman. Beberapa pertanaman di BBU mati dan tidak tumbuh akibat serangan ayam pada awal pertumbuhan, hal ini disebabkan karena lokasi bagian pinggir sangat dekat
dengan perumahan petani. Cekaman air pada lahan petani terjadi karena selama dilapangan tanaman hanya mendapatkan air 4 kali (yang semestinya 8 kali), akan tetapi di lokasi BBU sebaliknya terjadi kegenangan sehingga tanaman menjadi kerdil. Di desa Kemong beberapa tanaman yang ternaungi mengalami hambatan pertumbuhan.

Fenomena resurjensi pada penggunaan insektisida imidokloprid 350sc pada hama wereng coklat. M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Fenomena resurjensi penggunaan insektisida berbahan aktif imidokloprid 350SC pada hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) yang dicobakan pada pengujian di Laboratorium, Loka Penelitian Penyakit Tungro, Lanrang Sidrap, Sulawesi Selatan yang dilaksanakan dari bulan Agustus sampai Nopember 2007. menunjukkan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC pada semua dosis tidak menimbulkan gejala resurjensi pada wereng coklat pada generasi pertama, kedua dan ketiga di laboratorium. Sedangkan pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat (nilaparvata lugens stal.) dan wereng punggung putih (sogotella furcifera horvath) oleh insektisida imidokloprid 350SC pada tanaman padi sawah menunjukkan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC dosis 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha tidak menimbulkan gejala resurjensi dan gejala kecenderungan resurjensi wereng coklat, dan wereng punggung putih, dengan wk-wp berkisar -99 sampai -825 untuk wereng coklat dan -63 sampai -437 untuk wereng punggung putih. Aplikasi insektisida imidokloprid 350 SC semua dosis, tidak memperlihatkan pengaruh negatif terhadap musuh alami laba-laba Lycosa pseudoannula, Cythorinus lipidipennis dan Paederus tamulus. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa insektisida imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala fitotoksisitas pada tanaman padi.

Densitas populasi ophionea nigrofaciata(schmidt-goebel) pada tanaman jagung, sorgum dan rumput. M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Densitas populasi musuh alami Ophionea nigrofaciata (Schmidt-Goebel) pada beberapa jenis tanaman seperti jagung dan sorgum pada stadia tanaman muda dan tua, serta tanaman rumput sawah. Pada tanaman jagung dan sorgum, petak pengamatan diblok menjadi 4 ulangan dengan mengambil sampil 10 tanaman tiap ulangan atau total 40 unit pengamatan/blok, sedang pengamatan pada rumput dilakukan dengan mengkapling petak pengamatan dengan ukuran 5 x 5 m. Pencatatan dilakukan pencatatan terhadap jumlah populasi serangga musuh alam dewasa yang terlihat dengan mata telanjang. Hasil pengamatan pada tiga jenis tanaman inang nampak bahwa rata-rata densitas populasi Ophionea nigrofaciata sangat kecil, hal ini disebabkan karena pertanaman mengalami proteksi dengan penggunaan tingkat dosisi yang tinggi sehingga berdampak pada matinya mush alam yang ada pada petak/blok pengamatan.

Pengelolaan hama penggerek batang jagung Ostrinia furnacalisGuenee (Lepidoptera:Pyralidae). M.Sudjak Saenong

ABSTRAK

Asian corn borer (ACB) is the most important pest in corn. The pest not only caused damage on stem, but also on leaf, tassel, and ear. Due to this pest nutrient translocation is interfered and causes disturbance plant productivity. Yield losses due to ACB ranged from 20% to 80%. Several studies on control effort to ACB have been reported by researchers, scientists, and other practices. Those results be is presented in this paper systematically. This review focused on biological control means, the use of insecticide both botanical control means, the use of insecticide both botanical and synthetics, the use of resistant varieties, and crop management.

Indikator Mutu Benih dan Reaksi Varietas Srikandi Kuning dan Putih oleh Tekanan Hama Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch). M.Sudjak Saenong 

ABSTRAK
Dinamika serangan hama kumbang bubuk pada varietas Srikandi Kuning dan Srikandi Putih dia-mati pada 300 gr sample dengan 3 ulangan untuk melihat reaksi kedua varietas terhadap tekanan serangga. Data tentang indikator mutu benih dari kedua varietas tersebut diatas diamati antara lain ; panjang akar, panjang tunas, berat kering kecambah, persentase kekerasan biji (sebelum diremdam aquades dan sesudah direndam), persentase daya tumbuh (hari, 3, 4 dan 5), persentase kadar air, uji daya kecambah (normal kuat, normal lemah dan abnormal), dan persentase biji sehat, demikian pula data reaksinya terhadap infestasi hama kumbang bubuk (Sitophilus zeamasi Motsch) juga diamati. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara umum terdapat perbedaan nilai dan besaran dari pengukuran variabel pengamatan pada kedua varietas yang diuji, akan tetapi nilai tersebut tidak menunjukkan adanya variasi yang besar dan mencolok. Disatu sisi variable pengamatan tercatat nilai Srikandi Kuning nampak lebih tinggi akan tetapi pada variable lain justru Srikandi Putih yang lebih tinggi.

PENDUGAAN JENIS KELAMIN SERANGGA HAMA KUMBANG BUBUK Sitophilus zeamays Motsch DENGAN MATA TELANJANG PADA POPULASI HETEROGEN. M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Penelitian Pendugaan Jenis Kelamin Serangga Hama Kumbang Bubuk Sitophilus zeamays Motsch dengan Mata Telanjang telah dilakukan di laboratorium Kelti Hama Penyakit Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Sebanyak 20 ekor serangga dewasa Sitophilus zeamays yang digrouping menurut beberapa kreteria pengambilan sampel yang ditaruh dalam gelas penampungan untuk diidentifikasi jenis kelaminnya dibawah mikroskop. Identifikasi mikroskop melihat perbedaan rostrum serangga dan kecerahan warna kulit yang merujuk pada literatur yang selama ini digunakan di Kelti Hama Penyakit Balitsereal. Pendugaan jenis kelamin serangga dengan mata telanjang didasarkan pada bentuk dan ukuran (postur) dari serangga uji yang merujuk kepada teori umum bahwa serangga betina mempunyai postur tubuh lebih gemuk dan besar dari pada yang jantan. Beberapa sampel uji yang dijadikan objek penelitian adalah serangga sampel diambil berdasarkan ukuran tubuh (postur) dan waktu pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendugaan jenis kelamin serangga hama kumbang bubuk jagung dengan mata telanjang pada populasi heterogen menghasilkan variasi nisbah dan proporsi jenis kelamin antar sampel pengamatan. Ini mengindikasikan bahwa pada kondisi populasi serangga yang heterogen, penentuan/pendugaan jenis kelamin akan menghasilkan bias yang relatif agak besar, sehingga untuk ketepatan pendugaan syaratnya adalah populasinya homogen dan harus diidentikasi menggunakan mikroskop.

LEBIH DEKAT MENGENAL HAMA WERENG JAGUNG Peregrinus maidis Ashmead. M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Tulisan ini mencoba mengangkat dan mengenal lebih dekat tentang serangga hama wereng jagung Peregrinus maidis Asmead yang belum banyak dikenal dikalangan masyarakat pertanian. Dalam struktur taksonomi, serangga ini masuk dalam kelompok famili Delphacide, genus Peregrinus dan spesies maidis. Hama ini mempunyai banyak kisaran tanaman inang dari jenis rerumputan dimana serangga ini hidup dan berkembangbiak, akan tetapi tanaman sorgum menurut beberapa referensi adalah merupakan inang utamanya. Hama ini pada lahan petani jagung tidak saja merusak struktur fisik tanaman yakni dengan cara mengisap cairan tanaman yang dapat berakibat pada hangusnya tanaman (hopper burn) tetapi juga sebagai vektor penyakit virus yang saat ini dikenal dengan nama virus MMV (maize mosaic rhabdovirus ) dan penyakit MStV ( maize tenuivirus). Walaupun di Indonesia virus ini belum pernah dilaporkan menimbulkan masalah serius pada tanaman, akan tetapi pada belahan dunia lain seperti didaratan Hawaii, Iran dan beberapa negara Afrika menjadi masalah utama di negara tersebut.

POPULASI CECOPET PADA BEBERAPA TANAMAN JAGUNG VARIETAS BIMA  DAN CALON HIBRIDA M.Sudjak Saenong

ABSTRAK
Pengamatan densitas populasi cecopet (Euborellia sp) pada visitor plot gelar teknologi Balitsereal telah dilakukan pada tahun 2010, pada 40 petak/blok atau 10 tanaman dengan 4 ulangan pada petak ukuran 5 x 5 m. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah populasi serangga musuh alami dewasa yang dapat dilihat dengan mata. Hasil pengamatan ditabulasi untuk mengetahui total populasi musuh alami pada setiap petak. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa populasi cecopet bervariasi, baik pada varietas Bima mupun calon hibrida. Populasi terendah pada varietas Bima 5 (0,53 ekor/tanaman) dan tertinggi pada varietas Bima 4 (0,86 ekor/tanaman). Populasi terendah pada calon hibrida 5 (0,75 ekor/tanaman), dan tertinggi pada calon hibrida 4 (1,13 ekor/tanaman).


ABSTRAK
Kajian pemunculan progenis hama Kumbang Bubuk Sitophilus zeamays Motsch oleh pengaruh perbedaan nisbah kelamin telah dilaksanakan di laboratorium Balitsereal. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Beberapa pasang serangga dewasa hama kumbang bubuk diinfestasikan pada gelas yang berisi jagung varietas Sukmaraga dengan tiga kelompok perbandingan nisbah kelamin jantan (j) dan betina (b) antara lain, a) 1j+1b, 1j+2b, 1j+3b, 1j+4b, b) 2j+1b, 2bj+2b, 2j+3b, 2j+4b, c) 3J+1b, 3j+2b, 3j+3b, 3j+4b. Setelah 3-5 hari setelah infeksi (his), serangan uji dibuang kemudian dilakukan pengamatan terhadap pemuncukan progenis pada minggu ketiga setelah infeksi (msi) sampai progenis tidak muncul lagi dari gelas pengamatan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang menghasilkan keturunan yang paling banyak dari tiga kombinasi perlakuan adalah 1 jantan + 4 betina dengan jumlah progenis 55.33 ekor, 2 jantan + 3 betina dengan jumlah progenis 39.32 ekor dan terahir adalah pasagan 3 jantan + 2 betina dengan jumlah progenis 18.34 ekor.

SEKILAS INFORMASI MENGENAI HAMA KUMBANG BUBUK SITOPHILUS ZEAMAIS PADA TANAMAN JAGUNG M Sudjak Saenong 

ABSTRAK
Hama Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch) di America lebih dikenal dengan nama Greater rice weevil, adalah spesies kumbang yang masuk dalam golongan Curculionedae. Kumbang ini apabila kondisi lingkungan mendukung perkembangannya maka keberadaannya akan dapat merusak secara ekonomi yang pada beberapa hasil penelitian kerusakan ditingkat petani/lapangan dapat mencapai 30%. Tulisan ini membahas dan memberikan sekilas informasi mengenai aspek bioekologi, factor-faktor yang kondusif bagi perkembangbiakan, nomenklatur dan beberapa hasil-hasil teknologi tentang aspek makan, preferensi dan interaksinya dengan factor-faktor biofisk lingkungan sekitarnya.

KAJIAN ASPEK TINGKAH LAKU SERANGGA HAMA KUMBANG BUBUK Sitophilus zeamays  DI LABORATORIUM M. Sudjak Saenong

ABSTRAK
Pengamatan aspek tingkah laku serangga hama kumbang bubuk dilakukan dengan mengkaji dua dasar. Pertama, yakni pemunculan progenis hama Kumbang Bubuk Sitophilus zeamays Motsch oleh pengaruh perbedaan nisbah kelamin dan Pendugaan Jenis Kelamin. Kedua, Serangga Hama Kumbang Bubuk Sitophilus zeamays Motsch dengan Mata Telanjang. Kajian Pemunculan Progenis Hama Kumbang Bubuk Sitophilus Zeamays Motsch oleh Pengaruh Perbedaan Nisbah Kelamin Telah Dilaksanakan Di Laboratorium Balitsereal, 2008. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Beberapa pasang serangga dewasa hama kumbang bubuk diinfestasikan pada gelas yang berisi jagung varietas Sukmaraga dengan tiga kelompok perbandingan nisbah kelamin jantan (j) dan betina (b) antara lain, a) 1j+1b, 1j+2b, 1j+3b, 1j+4b, b) 2j+1b, 2bj+2b, 2j+3b, 2j+4b, c) 3J+1b, 3j+2b, 3j+3b, 3j+4b. Setelah 3-5 hari setelah infeksi (his), serangga uji dibuang kemudian dilakukan pengamatan terhadap pemuncukan progenis pada minggu ketiga setelah infeksi (msi) sampai progenis tidak muncul lagi dari gelas pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang menghasilkan keturunan yang paling banyak dari tiga kombinasi perlakuan adalah 1 jantan + 4 betina dengan jumlah progenis 55.33 ekor, 2 jantan + 3 betina dengan jumlah progenis 39.32 ekor dan terahir adalah pasangan 3 jantan + 2 betina dengan jumlah progenis 18.34 ekor. Penelitian Pendugaan Jenis Kelamin Serangga Hama Kumbang Bubuk Sitophilus zeamays Motsch dengan Mata Telanjang telah dilakukan di laboratorium Kelti Hama Penyakit Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros pada tahun 2008. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Sebanyak 20 ekor serangga dewasa Sitophilus zeamays yang digrouping menurut beberapa kriteria pengambilan sampel yang ditaruh dalam gelas penampungan untuk diidentifikasi jenis kelaminnya dibawah mikroskop. Identifikasi mikroskop melihat perbedaan rostrum serangga dan kecerahan warna kulit yang merujuk pada literatur yang selama ini digunakan di Kelti Hama Penyakit Balitsereal. Pendugaan jenis kelamin serangga dengan mata telanjang didasarkan pada bentuk dan ukuran (postur) dari serangga uji yang merujuk kepada teori umum bahwa serangga betina mempunyai postur tubuh lebih gemuk dan besar dari pada yang jantan. Beberapa sampel uji yang dijadikan objek penelitian adalah serangga sampel diambil berdasarkan ukuran tubuh (postur) dan waktu pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendugaan jenis kelamin serangga hama kumbang bubuk jagung dengan mata telanjang pada populasi heterogen menghasilkan variasi nisbah dan proporsi jenis kelamin antar sampel pengamatan. Ini mengindikasikan bahwa pada kondisi populasi serangga yang heterogen, penentuan/pendugaan jenis kelamin akan menghasilkan bias yang relatif agak besar, sehingga untuk ketepatan pendugaan syaratnya adalah populasinya homogen dan harus diidentikasi menggunakan mikroskop. Preferensi serangga uji bervariasi dari 0,63%-6,7% pada perlakuan I (menggunakan serangga yang sama) dan 2,38%-8,00% pada perlakuan II (menggunakan serangga yang berbeda). Trend persentase preferensi yang dicatat di atas 5% pada perlakuan I ada 5 varietas pada interval 24 JSI, 5 varietas pada interval 48 JSI dan 2 varietas pada interval 72 JSI, sedangkan pada perlakuan II tercatat 7 varietas pada interval 24 JSI, 9 varietas pada interval 48 JSI dan 3 varietas pada interval 72 JSI. Varietas yang mencatat persentase preferensi di atas 5% pada kedua perlakuan tersebut adalah ICSV-Lm 9052 dan K1 pada interval 24 JSI, IS23502, GJ38, ICSV233, K1 dan 11/k-247-1-1 pada interval 48 JSI dan varietas K1 pada interval 72 JSI. Proporsi preferensi serangga pada perlakuan adalah 57,89% berfluktuasi dari interval ke interval lainnya, 15,79% menunjukkan trend mendatar, 10.52% menunjukkan trend menaik dan menurun, sedangkan pada perlakuan II, 57,89% berfluktuasi, 10,52% mendatar, 5,26% menaik dan 26,31% menurun.

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Lokasi Binaan Penangkar Benih Hibrida SHS dan Komposit Balitsereal di Sulawesi Selatan (Kasus Kabupaten Takalar, Bulukumba, Bone dan Wajo) M.Sudjak Saenong dan Imam Uddin Firmansyah

ABSTRAK
Survei identifikasi masalah dan penerapan alat/mesin pemroses benih jagung pada petani penangkar untuk memperbaiki mutu benih dan rekor status terkini organisme pengganggu tanaman pada lokasi binaan penangkar benih hibrida SHS dan komposit Balitsereal telah dilakukan dari pada bebrapa daerah penangkaran jagung. Survei dilakukan secara terstruktur dengan memilih secara sengaja beberapa petani sample. Beberapa sampel petani penangkar yang ada di desa pada beberapa kabupaten antara lain Takalar, Bulukumba, Bone dan Wajo dipilih untuk mewakili responden. Persentase responden yang diambil adalah 10% pada semua lokasi penangkaran dan dilakukan secara sengaja. Untuk mendapatkan responden yang representatif, dilakukan kordinasi dengan tokoh-tokoh tani , ketua kelompoktani dan KTNA, petuga spembina (SHS) dan Dinas Pertanian setempat. Informasi masalah OPT juga dilakukan dengan mendata informasi kualitatif yang disampaikan petani mulai dari OPT pada awal pertumbuhan tanaman sampai panen. Hasil Survei menunjukkan bahwa secara umum data kualitas serangan hama-hama utama tanaman jagung yang ada dilapangan seperti semut, lalat bibit, kutu daun (aphis), penggerek batang, penggerek tongkol, belalang, wereng jagung, tikus dan anjing-anjing nmpak sangat rendah pada semua lokasi pengambilan sample, dan secara ekonomi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Pengamatan pada prasarana pergudangan nampak bahwa pengelolalaan gudang umumnya kurang tertata rapi karna masih bercampurnya tempat penyimpanan benih dan alat-alat prosesing, demikian pula kondisi gudang yang lembab dan kotor juga menjadi satu penyebab berkembangnya hama kumbang bubuk dan cendawan aspergillus. Pada pengamatan kualitas serangan hama gudang nampak bahwa persentase serangan hama kumbang bubuk yang diukur dari persentase biji rusak dari semua varietas yang diamati hailnya sangat rendah yakni berkisar antara 0.02-6.40%, demikian pula dengan persentase biji yang rusak bukan akibat infestasi serangga (rusak fisik) yakni berkisar antara 0,00-1.27%. Hal ini disebabkan karena memang keberadaan imago serangga pada sample yang diamati sangat kecil yakni berkisar antara 0.00-3.33 ekor/300 gr sample.

Hasil hasil teknologi pengelolaan hama kumbang bubuksitophilus zeamais motch (coleoptera:curculionidae) pada tanaman jagung. M.SudjakSaenong dan Awaludin Hipi

ABSTRAK
Rekayasa teknologi yang dihasilkan dalam bentuk hasil hasil penelitian mengenai pengelolaan hama kumbang bubuk sudah cukup banyak. Pendekatan melalui kajian varietas seperti perakitan varietas tahan, upaya pengujian varietas melalui kajian tekanan serangga, kajian preferensi makan, kajian pengaruh kadar air awal, mekanisme resistensi dan kajian-kajian lain yang berkaitan dengan interaksi serangga dengan lingkungan sekitar. Tulisan ini memuat kajian pustaka hasil-hasil penelitian hama Kumbang Bubuk Sitophilus zeamais Motsch pada tanaman jagung dan sorgum. Diharapkan kajian pustaka teknologi tersebut dapat menjadi acuan dalam mendukung upaya-upaya pengedalian hama kumbang bubuk.

KAJIAN ASPEK TINGKAH LAKU SERANGGA HAMA KUMBANG BUBUK Sitophilus zeamays  DI LABORATORIUM M. Sudjak Saenong

Efikasi insektisida Sanming 400WSC dan Agrodi 290WSC terhadap penggerek batang padi putih pada tanaman padi. M.Yasin, Masmawati dan M.Sudjak Saenong

Penampilan galur komposit malang terhadap infestasi hama kumbang bubuk. Masmawati dan M.Sudjak Saenong

Fungsi kelembagaan dalam penerapan teknologi perbenihan jagung berbasis komunal. Margaretha  SL, M.Sudjak Saenong dan Sania Saenong

Studi peranan instansi terkait mendukung pengembangan program dalam rangka pemanfaatan lahan tidur diwilayah pantai barat sulawesi selatan. Masmawati dan M.Sudjak Saeong

Kiat mengamankan produksi kedelai dari infestasi optM.Sudjak Saenong

Pengembangan dan pembinaan penangkar benih berbasis kelompoktani dikecamatan sambelia kabupaten lombok timur nusa tenggara barat. Masmawati dan M.Sudjak Saenong

Sistem usahatani lahan tadah hujan wilayah pantai barat sulawesi selatan. Masmawati dan M.Sudjak Saenong

Studi kelembagaan berbasis komunal di kalimantan selatan. Bachtiar, M.Sudjak Saenong dan I.U.Firmansyah.

Perbaikan gizi masyarakat dan diversifikasi pangan melalui pemasyarakatan nasi jagung sebagai salah satu alternatif penanganan busung lapar. Suarni dan M Sudjak Saenong

Resume aspek teknolgi dan perananan kelembagaan pengembangan usahatani kedelai pada lahan tadah hujan dikabupaten maros. M.Sudjak Saenong dan Hayani

Sistem usahatani lahan tadah hujan wilayah pantai barat sulawesi selatan. Masmawati dan M.Sudjak Saenong

Hasil-hasil teknologi pengelolaan hama kumbang bubuk pada tanaman jagung. M.Sudjak Saenong dan Awaluddin Hippi

Pengelolaan hama penggerek batang padi putih. M.Sudjak Saenong dan M.Yasin Said

Perbaikan pascapanen sebagai teknologi alternatif dalam rangka pengelolaan hama kumbang bubuk pada komoditas tanaman jagung dan sorgum. M.Sudjak Saenong dan M.Yasin Said

Pengelolaan hama kumbang bubuk melalaui pemanfaatan varietas unggul yang tahan. M.Sudjak Saenong dan Burhanuddin

Kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan sebagai dampak penggunaan pestisida pertanian. M.Sudjak Saenong dan Awaluddin Hippi